PENDAHULUAN
Latar Belakang
   Penggunaan antibiotik atau antimikrobial sebagai bahan aditif dalam pakan ternak telah berlangsung lebih dari 40 tahun. Senyawa antibiotik tersebut digunakan sebagai growth promotor dalam jumlah yang relatif kecil namun dapat meningkatkan efisiensi pakan (feed efficiency) dan reproduksi ternak sehingga dengan penggunaan bahan aditif tersebut peternak dapat memperoleh keuntungan lebih banyak.
Akhir-akhir ini penggunaan senyawa antibiotik mengalami penurunan dan bahkan di beberapa negara telah melarang penggunaan antibiotik sebagai bahan aditif dalam pakan ternak, hal ini disebabkan karena dua faktor utama. Pertama, kemungkinan hadirnya residu dari antibiotik yang akan menjadi racun bagi konsumen, di samping itu antibiotik dapat menciptakan mikro-organisme yang resisten dalam tubuh manusia atau ternak (terutama bakteri-bakteri patogen seperti Salmonella, Escherichia coli dan Clostidium perfrinens). Dilaporkan penggunaan antibiotik pada pakan ternak unggas di North Carolina (Amerika Serikat) mengakibatkan resistensi bakteri terhadap Enrofloxacin, yang merupakan salah satu antibiotik yang direkomendasikan untuk membasmi bakteri E. coli (Samadi, 2008).
Sementara itu, banyak bahan bahan alami Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti antibiotik diantaranya kunyit dan bawang putih, sedangkan zink merupakan mineral tambahan yang dapat meningkatkan imunitas.
            Penggunaan kunyit, bawang putih dan zink telah banyak digunakan pada ternak. Menurut Winarno (2003) pemberian kunyit dapat menambah cerah atau kuning kemerahan pada kuning telur jika dicampur pada ransum ayam, Menurut Martini (1998), pemberian tepung Curcuma domestica dalam ransum sebayak 1 - 1,5% tidak berpengaruh terhadap konsumsi, penambahan bobot badan pada kelinci, tetapi berpengaruh meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Dari Penelitian Suharti (2004) hasilnya adalah serbuk bawang putih dengan konsentrasi 5% dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang setara dengan tetrasiklin 100 µg/ml. Penelitian Safithri (2004) menunjukkan bahwa ekstrak air dan etanol bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus agalactie, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.                       
            Penggunaan zink dari studi in vitro terungkap bahwa kehadiran zink akan meningkatkan respon proliferasi limfosit T terhadap berbagai rangsangan. Pemberian zink ternyata meningkatkan ekspresi dan fungsi molekul permukaan limfosit T sehingga memperbaiki interaksi antar sel dan kemampuannya menangkap langsung superantigen (Wahid, 2001).
Rumusan Masalah
            Penggunaan antibiotik sintetik sebagai feed aditif menimbulkan efek negatif terhadap ternak yang mengkonsumsinya karena adanya residu dan resistensi bakteri yang sangat berbahaya bagi ternak dan manusia yang mengkosumsinya. Pengkombinasian kunyit, bawang putih dan zink pada ransum dapat dijadikan alternatif antibiotik alami dalam pakan.

Hipotesis
            Diduga pemberian kunyit, bawang putih dan zink pada ransum dapat memberikan daya hambat antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.                      .
Tujuan dan Kegunaan
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas antibakteri dari kombinasi kunyit, bawang putih, dan zink  dalam menghambat Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang dapat menyebabkan penyakit pada unggas.
            Kegunaan penelitian ini adalah agar dapat memberikan informasi mengenai daya hambat antibakteri dari kombinasi kunyit, bawang putih dan zink pada ransum terhadap Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli yang dapat menyebabkan penyakit pada unggas.


TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan Antibiotik Sintesis
            Antibiotik merupakan produk metabolik yang dihasilkan suatu mikroorganisme tertentu, yang dalam jumlah amat kecil bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Dengan perkataan lain, antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat menghambat mikroorganisme lain (Pelczar dan Chan, 1988).
            Antibiotika banyak digunakan sebagai AGP (Antibiotic Growth Promoters) dalam pakan ternak di seluruh dunia untuk memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan dalam waktu yang lebih cepat serta untuk mencegah terjadinya infeksi (Van Den Bogaard et al., 2000). Beberapa antibiotika yang banyak dipakai sebagai AGP antara lain dari golongan tetracyclin, penicillin, macrolida, lincomysin dan virginiamycin (Angulo et al., 2004).
Resistensi bakteri patogen terhadap antibiotika pada manusia menjadi masalah di seluruh dunia. Terjadinya resistensi bakteri patogen ini disebabkan oleh pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana untuk pengobatan pada manusia serta pemakaian antibiotika pada hewan sebagai pemacu pertumbuhan yang mempunyai kontribusi terjadinya resistensi bakteri patogen terhadap antibiotika baik pada manusia maupun hewan (Barton, 2000).

            Dewi dkk (2002) meneliti residu antibiotika pada produk asal hewan di kabupaten Badung, berupa daging segar dan olahan. Sampel-sampel tersebut adalah: daging ayam sebanyak 10 sampel, daging babi 9 sampel, daging sapi 69 sampel, ham babi 3 sampel, ham sapi 1 sampel, sosis sapi 2 sampel, sosis ayam 4 sampel dan bacon 2 sampel) dari restoran, pasar tradisional dan Rumah Potong Hewan (RPH). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 10% tercemar antibiotika golongan tetrasiklin, 3% tercemar penicillin, 2%  tercemar aminoglikosida dan 4% tercemar makrolida. Sementara untuk daging segar yang diambil dari RPH 11,36% tercemar antibiotika golongan tetrasiklin, 3,40% tercemar penicillin dan 2,27%  tercemar aminoglikosida.
            Penggunaan antibiotik pada pakan menyebabkan adanya resistensi bakteri tertentu terhadap antibiotik tersebut dan adanya residu pada hewan yang mengkonsumsinya. Resistensi antibiotik terhadap bakteri yang diisolasi dari karkas ayam di area Jakarta dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Resistensi bakteri Salmonella enteritidis, Salmonella hadar dan Escherichia coli yang diisolasi dari karkas ayam di area Jakarta terhadap chloramphenicol, amoxicillin, dan tetracycline.
 

Antibiotik                Salmonella enteritidis     Salmonella hadar     Escherichia coli
Chloramphenicol (%)           14,28                           12,5                         0

Amoxicillin (%)                     14,28                           50                          73


Tetracyclin (%)                      28,57                           75                           93
Jumlah Sampel                     7                                   8                               15
Sumber : Noor dan Poeloengan (2005)

           
          Resistensi E. coli yang diisolasi dari karkas ayam di area Jakarta terhadap antibiotika amoxicillin dan tetracyclin terlihat cukup tinggi yaitu mencapai 73% dan 93%, begitu pula resistensi terhadap S. hadar. Walaupun terhadap chloramphenicol bakteri Salmonella dan E. coli masih tergolong sensitif namun terlihat bahwa ada kecenderungan untuk menjadi resisten. Jika dibandingkan hasil survei tersebut dengan hasil uji sensitivitas beberapa antibiotika terhadap E. coli (Tabel 2)  di beberapa negara tingkat terjadinya resistensi hampir sama.
Tabel 2. Perbandingan sensitivitas (%) beberapa antibiotika terhadap bakteri E.coli dari yang diisolasi dari unggas di beberapa negara.


Antibiotika                              UK1     Uni Eropa2      Canada3           USA (kalkun)4
Apramycin                               98              -                    97                          -

Neomycin                                 83            94                  50                         13
Spectinomycin                                    88             -                    38                         54
Ampicillin                                62             66                  58                         67
Tetracyclin                               52             55                  11                          -
Trimeth/sulfa                            76             97                  78                         87

Enrofloxacin                            99             97                  99                         99

Jumlah sampel                         484        1154                 294                   1204
Sumber: 1. Wray et al (1993), 2. Scheer et al (1997), 3. Laperle et al (1996), 4.Salmon and Watts (2000).

Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun 1996 dan Swiss tahun 1999. Selanjutnya pada 1 Januari 2006 Masyarakat Uni Eropa berdasar regulasi nomor 1831/2003 menetapkan tonggak pemusnahan berbagai macam antibiotik di mana selama beberapa dekade belakang merupakan substans yang kerap digunakan oleh peternak di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, pelarangan tersebut tidak menyeluruh hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomycin (Jerman), spiramycin, tylosin, virginiamycin dan chinoxalins (Uni Eropa) (Raharjo, 2008).
Kunyit
            Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dari permukaan laut, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata curcuma berasal dari bahasa Arab kurkum dan Yunani karkom. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia, dan Filipina (Anonim, 2009a).
            Kunyit merupakan tanaman parenial, tingginya 0,75 m - 1,00 m, tumbuh membentuk rumpun. Batang semu, tegak, silindris, dan berwarna hijau kekuningan. Batang atau rimpang kunyit seperti umbi, terdapat dalam tanah, bercabang banyak, tebal dan berdaging seperti gasing, dan bagian dalamnya berwarna kuning jingga. Akar serabut berwarna coklat muda. Berbau khas aromatik, rasa agak getir (agak pedas, agak pahit). Menurut klasifikasinya kunyit termasuk dalam kingdom Plantae, divisi Magnoliophyta, kelas Liliopsida, subkelas Zingiberidae, ordo Zingiberales, familia  Zingiberaceae dan genus Curcuma (Anonim, 2009a).
            Kunyit dapat tumbuh di berbagai tempat, tumbuh liar di ladang, dihutan (misalnya hutan jati), ataupun ditanam di pekarangan rumah, di dataran rendah hingga dataran tinggi. Selain itu, kunyit dapat tumbuh dengan baik ditanah yang baik tata pengairannya, curah hujannya cukup banyak (2000 mm–4000 mm), atau ditempat dengan sedikit kenaungan. Namun, untuk mendapatkan rimpang kunyit yang besar, sebaiknya ditanam ditanah lempung berpasir (Anonim, 2009a).
Kandungan Kunyit
            Rimpang kunyit yang matang mengandung beberapa komponen antara lain minyak volatil, campuran minyak (lemak), zat pahit, resin, protein, selulosa, dan pati. Komponen utamanya adalah pati dengan jumlah berkisar antara 40-50% dari berat kering. Kunyit mempunyai rasa dan bau yang khas, yaitu pahit dan getir serta barbau langu. Kunyit berwarna kuning atau jingga pada bagian dalamnya dan berwarna kecoklatan serta bersisik pada bagian luarnya serta mempunyai tekstur yang keras tetapi rapuh (Yongki, 2009)
Beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 6% yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen dan sesquiterpen (meliputi zingiberen, alfa dan beta-turmerone), zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 5% (meliputi kurkumin 50-60%, monodesmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin), protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C. Dari ketiga senyawa kurkuminoid tersebut, kurkumin merupakan komponen terbesar. Sering kadar total kurkuminoid dihitung sebagai persen kurkumin, karena kandungan kurkumin paling besar dibanding komponen kurkuminoid lainnya. Karena alasan tersebut beberapa penelitian baik fitokimia maupun farmakologi lebih ditekankan pada kurkumin (Anonim, 2009b).
Menurut Anonim (2009a) kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat yang disebut kurkuminoid. Kurkuminoid terdiri atas :
- Kurkumin                              : RI = R2 = OCH3 dengan kandungan 10%
- Desmetoksikurkumin            : R1 = OCH3, R2 = H dengan kandungan 1–5%
- Bisdesmetoksikurkumin       : R1 = R2 = H,
Kandungan kimia dalam rimpang kunyit per 100 g bahan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kandungan kimia dalam rimpang kunyit per 100 gram bahan yang dapat dimakan.
Nama Komponen
Komposisi
(%)*
**
Air
12,49
11,4 g
Kalori
-
1480 kal
Karbohidrat
-
64,9 g
Protein
8,67
7,8 g
Lemak
8,08
9,9 g
Serat
7,66
6,7 g
Abu
11,13
6,0 g
Kalsium
0,075
0,182 g
Fosfor
0,096
0,268 g
Besi
-
41 g
Vitamin B
-
5 mg
Vitamin C
-
26 mg
Minyak Atsiri
-
3 %
Kurkumin
5,1
3 %
Sumber : *  Purwanti (2008)
    **Said (2003)
       
Pemanfaatan Kunyit
            Kunyit mengandung komponen aktif kurkumin yang memiliki sifat antibakteri. Senyawa kimia yang ada dalam kunyit mampu menurunkan lemak dalam tubuh, berperan pada proses sekresi empedu dan pankreas yang dikeluarkan melalui feses. Komposisi dari kurkumin memiliki khasiat dapat memperlancar sekresi empedu (Liang et al , 1985).
Bintang dan Nataamijaya (2003) mengkombinasikan penggunaan tepung kunyit dengan tepung lempuyang dalam ransum broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi tepung kunyit dan tepung lempuyang pada level yang lebih tinggi (tepung kunyit di atas 0,04% dan tepung lempuyang 0,16%) nyata (P<0,05) menurunkan berat hati dan limpa, namum tidak berpengaruh terhadap berat organ dalam lainnya. Kombinasi ini juga menghasilkan daging ayam yang mampu bertahan dari kebusukan selama 10 jam.
Menurut Said (2003), di bidang peternakan, kunyit dimanfaatkan untuk menambah cerah atau warna kuning kemerahan pada kuning telur. Disamping itu bila dicampurkan dengan ransum ayam, kunyit dapat menghilangkan bau kotoran ayam dan menambah berat badan ayam. Di tambahkan pula bahwa dalam bidang keamanan pangan  minyak atsiri kunyit memberikan efek antimikroba sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan. Minyak atsiri pada kunyit terbukti bersifat membunuh (bakterisidal) terhadap bakteri golongan Bacillus cereus, Bacillus subtilis, dan Bacillus megetenium. Selain iu minyak atsiri mampu menghambat pertumbuhan sel vegetative bacillus dengan menghambat sporanya
Bawang Putih
            Bawang putih (Allium sativum) adalah herba semusim berumpun yang mempunyai ketinggian sekitar 60 cm. Tanaman ini banyak ditanam di ladang-ladang di daerah pegunungan yang cukup mendapat sinar matahari. Batangnya batang semu dan berwarna hijau. Bagian bawahnya bersiung-siung, bergabung menjadi umbi besar berwarna putih. Tiap siung terbungkus kulit tipis dan kalau diiris baunya sangat tajam. Daunnya berbentuk pita (pipih memanjang), tepi rata, ujung runcing, beralur, panjang 60 cm dan lebar 1,5 cm, berakar serabut, bunganya berwarna putih, dan bertangkai panjang (Anonim, 2009c).
            Bawang putih dengan aroma yang pedas dan harum banyak dilaporkan sebagai penyedap makanan dan bumbu masak. Umbinya mengandung banyak zat yang bersifat membunuh kuman dan penawar racun sehingga banyak digunakan untuk pengobatan. Bawang putih dengan nama Allium sativum L termasuk tanaman herba yaitu tumbuhan berbatang lunak yang digunakan sebagai rempah (Heat, 1981).
Kandungan Bawang putih
            Bawang putih mengandung minyak atsiri yang sangat mudah menguap di udara bebas. Minyak atsiri dari senyawa ini diduga mempunyai kemampuan sebagai antibakteri dan antiseptik. Sementara itu zat yang diduga memberikan aroma bawang putih yang khas adalah alisin. Di dalam tubuh alisin merusak protein kuman penyakit sehingga kuman penyakit tersebut mati. Alisin merupakan zat aktif yang mempunyai daya antibiotik yang cukup ampuh (Purwaningsih, 2005).
            Santosa (1991) melaporkan bahwa bawang putih mengandung beberapa senyawa aktif antara lain: Alisin mempunyai daya antibakteri dan antiradang. Selenium suatu mikro mineral sebagai antioksidan dan mencegah terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah ke otak. Germanium seperti selenium bersifat anti kanker dapat menghambat dan memusnahkan sel-sel kanker didalam tubuh. Metilatil trisulfida mencegah penyumbatan yang menghambat aliran darah ke jantung dan otak.
Menurut Yongki (2009) diantara beberapa komponen bioaktif yang terdapat pada bawang putih, senyawa sulfida adalah senyawa yang banyak jumlahnya. Senyawa-senyawa tersebut antara lain adalah dialil sulfida atau dalam bentuk teroksidasi disebut dengan alisin. Alisin mempunyai fungsi fisiologis yang sangat luas, termasuk diantaranya adalah antioksidan, antikanker, antitrombotik, antiradang, penurunan tekanan darah, dan dapat menurunkan kolesterol darah.
Kandungan kimia bawang putih per 100 gram bahan, dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan kimia bawang putih per 100 gram bahan
Nama Komponen
Komposisi
(%)*
**
Air
10,23
66,2 -71 g
Kalori
4.029
95 – 122 kal
Kalsium yang Sifatnya Menenangkan 
0,013
26 – 42 mg
Sulfur
-
60 – 120 mg
Protein
18,84
4,5 – 7 g
Lemak
0,71
0,2-0,3 g
Karbohidrat
-
23,1 – 24,6 g
Fosfor
0,157
15 – 109 mg
Besi
-
1,4 – 1,5 mg
Zink
0,057%
-
Selenium
-
346 –377 mg
Sumber : *   Purwanti (2008)
      **Purwaningsih (2005)



Pemanfaatan Bawang Putih
            Dalam dunia kesehatan bawang putih sering digunakan sebagai obat yaitu diantaranya untuk mengobati penyakit hipertensi, asma, batuk, sakit kepala, sakit kuning, sesak nafas, busung air, ambeien, sembelit, luka memar, abses, luka benda tajam, digigit serangga, cacingan, sulit tidur (insomnia)  (Anonim, 2009d).
Bawang putih juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan dan respirasi fungi patogenik. Daya antimikroba tinggi yang dimiliki bawang putih dan bawang bombay dikarenakan kandungan alisin dan senyawa sulfida lain yang terkandung dalam minyak atsiri bawang putih dan bawang bombay. Pengujian aktivitas antimikroba bawang putih pertama kali dilakukan oleh Cavalito dan Bailey pada tahun 1944. Dialil sulfida dan dialil polisulfida (komponen flavor utama bawang putih) tidak menunjukkan aktivitas antimikroba. Namun alisin menunjukkan aktivitas penghambatan bagi pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif (Yongki, 2009).
Suharti (2004) meneliti tentang sifat antibakteri bawang putih terhadap bakteri Salmonella typhimurium. Hasilnya adalah serbuk bawang putih dengan konsentrasi 5% dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang setara dengan tetrasiklin 100 µg/ml. Penelitian Safithri (2004) menunjukkan bahwa ekstrak air dan etanol bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus agalactie, S. aureus, dan E. coli. Ekstrak air bawang putih dengan konsentrasi 20% mempunyai aktivitas antibakteri yang sama dengan ampicillin 5 µg terhadap Streptococcus agalactie, S. aureus, dan E. coli.

Zink
            Zink termasuk dalam kelompok trace element yaitu elemen-elemen yang terdapat dalam tubuh dengan jumlah yang sangat kecil dan mutlak diperlukan untuk memelihara kesehatan (Armin, 2006).
             Zink esensial untuk kehidupan telah diketahui sejak lebih dari seratus tahun yang lalu. Penelitian mendalam selama 20 tahun terakhir menghasilkan pengertian tentang peranan biokimia zink dalam tubuh dan gejala klinik yang timbul akibat defisiensi zink pada manusia. Zink memegang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh, dan sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pada kegiatan lebih dari 300 enzim, berperan dalam berbagai aspek metabolisme, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lemak, dan asam nukleat (Almatsier, 2001).
            Menurut Tillman, dkk (1989) Zn mempengaruhi absorpsi fosfor demikian pula sebaliknya, karena pembentukan garam – garam fosfor (P) yang tidak larut. Kalsium yang tinggi juga mengurangi absorpsi Zn dalam tubuh, kadar Zn yang tinggi dalam hati mengurangi timbunan besi (Fe) dan tembaga (Cu) dalam hati, sebaliknya rendahnya Zn menyebabkan kelebihan Fe dan Cu dalam hati, Cu   yang berlebih dalam tubuh menyebabkan rendahnya persediaan Zn.
Pemanfaatan Zink
            Zink mempunyai kegunaan penting yaitu sebagai antioksidan, melindungi sel dari pengaruh kerusakan oksidatif yang dihasilkan selama aktivasi imun. Selain itu zink juga mengatur ekspresi dalam limfosit dan protein. Dengan aktifitas antioksidan konsentrasi zink membran sangat dipengaruhi oleh defisiensi zink. Suplementasi zink dapat mencegah peroksidasi lemak dan mencegah kerusakan paru pada tikus akibat hipoksia dengan cara membatasi kerusakan membran oleh radikal bebas selama inflamasi (Shankar dan Prasad, 1998).
Apoptosis terjadi pada proses perkembangan sel yang sangat diperlukan dalam regulasi kepadatan populasi sel normal. Apoptosis sebenarnya adalah proses fisiologis yang normal memungkinkan berbagai proses penting dari perubahan epitel ke perkembangan limfosit T dan B, namun bila berlebihan menyebabkan ketidak beraturan dan beberapa proses dasar dapat terjadi, dengan demikian memiliki konsekuensi penting dalam kesehatan. Hewan yang defisiensi zink memperlihatkan perubahan secara spontan. Kekurangan zink menyebabkan atropi timus yang merupakan gambaran utama defisiensi zink. Sekarang diketahui bahwa atropi ini berhubungan dengan apoptosis sel dari timusit (Armin, 2006).
Hasil penelitian Kim dan Patterson (2004) menunjukkan bahwa eskresi Zn dalam manure ayam broiler meningkat secara linear sejalan dengan meningkatnya taraf Zn ransum. Selanjutnya dikatakan bahwa ayam yang mengkonsumsi ransum yang disuplementasi 1.500 mg ZnO/kg ransum mengeluarkan Zn 16% lebih banyak dibanding dengan ayam yang diberi ransum dengan penambahan 1.500 mg ZnSo4/kg ransum. Hal ini disebabkan ketersediaan biologis ( bioavailability) ZnO lebih rendah dibanding dengan ZnSO4. Lebih lanjut dikatakan suplementasi 1.500 ppm Zn dalam bentuk ZnSO4 menurunkan bobot badan, konsumsi ransum dan efisiensi penggunaan ransum ayam broiler dibanding dengan suplementasi Zn dalam bentuk ZnO pada dosis yang sama. Suplementasi ZnO sebanyak 500, 1.000, dan 1.500 mg/kg ransum tidak menekan performa ayam broiler.
Cara Kerja Antibiotik dan Tanaman Herbal
Mekanisme kerja antibakteri adalah sebagai berikut :
a.       Kerusakan pada dinding sel. Bakteri memiliki lapisan luar yang disebut dinding sel yang dapat mempertahankan bentuk bakteri dan melindungi membran protoplasma dibawahnya.
b.      Perubahan permeabilitas sel. Beberapa antibiotik mampu merusak atau memperlemah fungsi ini yaitu memelihara integritas komponen komponen seluler.
c.       Perubahan molekul protein dan asam nukleat. Suatu antibakteri dapat mengubah keadaan ini dengan mendenaturasikan protein dan asam asam nukleat sehingga merusak sel tanpa dapat diperbaiki lagi.
d.      Penghambatan kerja enzim. Setiap enzim yang ada di dalam sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel (Pelczar dan Chan, 1988).
Minyak atsiri yang aktif sebagai antibakteri pada umumnya mengandung gugus fungsi hidroksil (OH) dan karbonil. Turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis (Parwata dan Dewi, 2008).

Bakteri Patogen Penyebab Penyakit
            Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, uniseluler dan tidak mengandung struktur yang terbatasi membran didalam sitoplasmanya. Sel-selnya secara khas, berbentuk bola, batang atau spiral. Reproduksi bakteri terutama terjadi dengan pembelahan biner sederhana yaitu suatu proses aseksual. Bakteri menimbulkan berbagai perubahan kimiawi pada substansi yang ditumbuhinya, mereka mampu menghancurkan banyak sel. Organisme ini sangat penting untuk memelihara lingkungan kita. Beberapa jenis bakteri menimbulkan penyakit pada binatang (termasuk manusia) dan tumbuhan. Organisme ini sangat luas menyebar dalam dan pada permukaan bumi, atmosfer, dan di lingkungan kita sehari-hari ( Pelczar dan Chan, 2005).
            Secara umum bakteri dibagi atas dua golongan yaitu bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif. Bakteri Gram negatif disusun oleh lapisan peptidoglikan yang terletak di luar membran plasma, sebanyak 40 lembar atau 50% dari komposisi dinding sel. Teichoic dan teichuronic acid 50% dari berat kering dinding sel atau 10% berat kering seluruh tubuh bakteri dan komponen lain yaitu  polisakarida. Sementara bakteri Gram positif tersusun atas 1-2 lembar peptidoglikan, atau 5-10% dari dinding sel yang terletak pada periplasma (di antara membran luar dan membran plasma). Lipopolisakarida (LPS) ±50% dari berat kering dinding sel serta komponen lain berupa lipoprotein (Kamaluddin, 2009).

            Bakteri Gram positif memiliki peptidoglikan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Gram negatif sehingga dindingnya menjadi lebih tebal (50% sementara Gram negatif sekitar 10-15%). Dinding sel pada kebanyakan bakteri gram positif juga memiliki polisakarida yang disebut asam teikoat yang merupakan polimer gliserol dan ribitol fosfat yang menempel pada peptidoglikan atau membran sitoplasma. Fungsi asam teikoat (muatan negatif) adalah untuk transport ion positif dari dan keluar sel serta untuk penyimpanan fosfor (Aryantha, 2009).
 




















Gambar 1.  Perbandingan Dinding Sel Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif (Aryantha, 2009).

Bakteri S. aureus dan E. coli dapat menyebabkan penyakit pada ternak misalnya S. aureus dapat menyebabkan infeksi supuratif pada hewan maupun manusia dan sering menimbulkan mastitis pada sapi dan kambing, pioderma pada anjing maupun kucing serta menimbulkan abses pada semua spesies hewan termasuk unggas sedangkan E. coli dapat menyebabkan penyakit pada pedet antara lain Calf disentri, White scours (mencret putih) atau Colibacillosis. E. coli pada babi yang tergolong dalam haemolitik strain merupakan penyebab penyakit oedema yang ditunjukkan dengan adanya penebalan dinding lambung dan saluran pencernaan (Quinn, 2002).
   Staphylococcus adalah bakteri Gram positif, berbentuk kokus, non motil, dan mampu memfermentasi manitol, menghasilkan koagulase, dan mampu menghasilkan enterotoksin dan Heat-Stable Endonuklease. Enterotoksin adalah zat toksik yang dihasilkan bakteri ini, dikenal ada 5 macam enterotoksin yaitu A, B, C, D, dan E. Tidak semua strain S. aureus menghasilkan enterotoksin namun semua strain berpotensi menyebabkan keracunan, 62% isolat yang diperoleh dari ayam menghasilkan enterotoksin A (Cox dan Bailey, 1987).
            Bakteri Escherichia coli umumnya bersifat Gram negatif, tidak tahan asam, tidak membentuk spora. Sebagian besar Escherichia coli bersifat motil dengan alat gerak berupa flagella. Beberapa galur Escherichia coli mempunyai kapsula. Berdasarkan karakteristik patogenik dari protein strukturalnya dikenal beberapa jenis antigen Escherichia coli  yaitu  antigen somatik (O), antigen flagella (H), dan antigen kapsula (K). Bentuk dan ukuran bakteri sangat bervariasi dan umumnya berbentuk batang pendek gemuk yang merupakan peralihan antara bentuk kokus dan batang sehingga sering dikenal dengan bentuk coco-bacillus (Gillepsie dan Timoney, 1981).


Metode Difusi Disk
Menurut Suryaningrum (2009) pada dasarnya uji aktivitas antibakteri bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1.    Dilusi Cair atau Dilusi Padat
Pada prinsipnya antibiotik diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi. Pada dilusi cair, masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman dalam media, sedangkan pada dilusi padat tiap konsentrasi obat dicampur dengan media agar lalu ditanami kuman.
2. Difusi
Media yang dipakai adalah agar Mueller Hinton. Pada metode difusi ini ada beberapa cara, yaitu :
a. Cara Kirby Bauer
Koloni kuman diambil dari pertumbuhan 24 jam pada agar, disuspensi ke dalam 0,5 ml BHl cair, diinkubasi 5-8 jam pada 37oC. Kemudian suspensi di atas ditambah aquades steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi kuman 108 CFU per ml (CFU: Colony Forming Unit). Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam suspensi kuman lalu ditekan tekan pada dinding tabung hingga rata. Kemudian meletakkan kertas samir (disk) yang mengandung antibiotik di atasnya, diinkubasi pada 37oC selama 19-24 jam.
b. Cara Sumuran
Koloni kuman diambil dari pertumbuhan 24 jam pada agar, disuspensi ke dalam 0,5 ml BHI cair, diinkubasi 5-8 jam pada 37oC. Suspensi di atas ditambah akuades steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi kuman 108 CFU per ml. Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam suspensi kuman lalu ditekan tekan pada tabung hingga rata. Pada agar tersebut dibuat sumuran dengan garis tengah tertentu menurut kebutuhan. Sumuran tersebut ditetesi larutan antibiotik yang digunakan kemudian diinkubasi pada 37oC selama 18-24 jam setelah itu hasilnya dibaca, seperti pada cara Kirby Bauer.
c. Cara Pour Plate
Mengambil beberapa koloni kuman dari pertumbuhan 24 jam pada agar, disuspensikan ke dalam 0,5 ml BHI cair, diinkubasi 5-8 jam pada 37oC. Suspensi di atas ditambah aquadest steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi kuman 108 CFU per ml. Mengambil satu mata ose dengan ose khusus dan dimasukkan dalam 4 ml agar base 1,5% yang mempunyai temperatur 50oC (diambil dari penangas air). Setelah suspensi kuman tersebut dibuat homogen, dituangkan pada media Mueller Hinton agar. Menunggu sampai membeku kemudian meletakkan disk antibiotik. Diinkubasi selama 15-20 jam dengan temperatur 37oC. Membaca masing-masing antibiotik dengan menyesuaikan standar.
Metode Kirby-Bauer atau metode difusi disk merupakan cara yang paling banyak dipakai untuk menentukan kepekaan kuman terhadap berbagai macam antibiotika. Pada metode difusi disk digunakan cakram kertas saring yang mengandung suatu obat (antibakteri) dengan konsentrasi tertentu yang ditempelkan pada lempeng agar yang telah ditanami kuman. Hambatan (killing zone) akan tampak sebagai daerah yang tidak memperlihatkan pertumbuhan kuman disekitar cakram. Lebar daerah hambatan tergantung ada atau tidaknya daya serap obat kedalam agar dan kepekaan kuman terhadap obat tersebut (Anonim, 2009e).
Interpretasi hasil pengujian difusi disk dapat dilihat dari dua alternatif.  Pertama ialah apabila di sekitar paper disk terdapat zona (daerah) bening tanpa pertumbuhan bakteri; hal ini dinyatakan  positif, berarti obat tradisional yang diuji mempunyai daya  antimikroba. Alternatif kedua ialah apabila di sekitar paper  disk tidak terdapat zona bening yang bebas dari pertumbuhan   bakteri; dinyatakan negatif yang berarti obat tradisional yang  diuji tersebut tidak mempunyai daya antimikroba (Pudjarwoto, 1992).
 

            Zona Hambatan


            Media

            Paper Disk




Gambar 2. Zona hambatan metode difusi disk
           




METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
            Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Februari 2010 di Laboratorium Kimia Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin dalam proses pembuatan bubuk kunyit dan bawang putih serta pencampuran bahan pakan. Tahap selanjutnya  yaitu pengujian daya hambat antibakteri di Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan.
Materi Penelitian
            Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pisau, wadah untuk menjemur, kaos tangan, inkubator, plastik hitam, blender, mesin penggiling, cawan petri, autoklaf, gelas ukur, tabung reaksi, dan ose.
            Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu kunyit, bawang putih, ZnO, dan bahan untuk ransum basal yaitu jagung, dedak, minyak nabati, tepung ikan, bungkil kedelai, CaCo3, Ca3(PO4)2 (tricalsium phosfat), vitamin, mineral, lysin, dan methionin. Isolat kuman S. aureus strain ATCC 25923, E. coli strain ATCC 25922, media Mueller Hinton Agar (MHA), Blood Agar, dan  Mac Conkey Agar, antibiotik disk, kertas disk kosong, alkohol 70%  dan akuades.
Metode Penelitian
Metode Penelitian terdiri atas dua tahap yaitu:
a)      Pembuatan bubuk kunyit dan bawang putih yaitu mula-mula kunyit dan bawang putih dibersihkan setelah itu diiris tipis-tipis. Irisan bawang putih dan kunyit ditutup plastik hitam kemudian dijemur dibawah sinar matahari sampai kering. Kunyit dan bawang putih kemudian digiling sampai halus agar mudah tercampur dengan bahan pakan, komposisi ransum basal dapat dilihat pada Tabel 5, Kemudian kunyit, bawang putih dan zink dicampur dengan ransum basal sesuai perlakuan dengan susunan sebagai berikut:
R0 = Ransum basal (kontrol)
R1   =  Ransum basal  + serbuk bawang putih 2,5% + serbuk kunyit 1,5%
R2    = Ransum basal  + serbuk bawang putih 2,5% + ZnO 120 ppm
R3   = Ransum basal  + serbuk kunyit 1,5% + ZnO 120 ppm
R4 = Ransum basal + serbuk bawang putih 2,5% + serbuk kunyit 1,5% +  ZnO 120 ppm
Tabel. 5. Komposisi ransum basal
Bahan Baku Pakan
R0
R1
R2
R3
R4
(%)
Jagung
50
51
51
51
51
Dedak
3
3
3
3
3
Minyak Nabati
5,5
5,5
5,5
5,5
5,5
Tepung Ikan
12
12
12
12
12
Bungkil Kedelai
26,3
26,3
26,3
26,3
26,3
CaCO3
1
1
1
1
1
DCP
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
Vitamin dan Mineral
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
Lysin
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
Methionin
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
Total
100
100
100
100
100


b)      Pengujian daya hambat antibakteri  (Gambar.3) dengan menggunakan metode difusi disk dengan beberapa tahapan yaitu :
1.      Pembuatan suspensi bakteri
Metode pembuatan suspensi bakteri yaitu bakteri S.aureus dan E. coli dibiakkan terlebih dahulu pada media Mac Conkey Agar (E. Coli) dan Blood Agar (S.aerus) kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Empat sampai lima koloni dari bakteri hasil biakan diambil dengan ose steril dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi lima mililiter Phosphate Buffer Solution (PBS). Inkubasi pada suhu 37°C selama dua jam, maka terbentuklah kekeruhan yang setara dengan standart Mc Farland 1 dengan konsentrasi bakteri 3 x 108 / ml. Jumlah bakteri telah memenuhi syarat untuk uji kepekaan yaitu : 105 – 108 / ml (Carter dan Cole, 1990).
2.       Pemberian campuran ransum.
Campuran ransum yang telah disusun sebanyak 5 perlakuan diambil masing masing 10 g kemudian di campurkan dalam 10 ml aquades. Kemudian dituangkan dalam cawan petri yang telah diberi kertas disk steril dan direndam selama 10 menit atau sampai menjadi jenuh lalu pindahkan kertas disk dalam MHA yang berisi inokulan bakteri, sesuai variabel konsentrasi masing-masing kemudian inkubasi pada suhu 370C selama 1x24 jam.



3.    Peubah yang diamati
Peubah yang diamati pada penelitian ini yaitu terbentuknya daerah hambatan pertumbuhan bakteri yang ada di sekeliling kertas disk berupa ukuran diameter daerah jernih. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan mistar plastik. Interpretasi daerah hambatan pertumbuhan bakteri mengacu pada standart umum obat asal tanaman yakni diameter daya hambat berukuran 12 – 24 mm (Departemen Kesehatan, 1988).
Analisis Data
            Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), data hasil pengukuran daya hambat dianalisis dengan sidik ragam, selanjutnya setiap perlakuan yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Gasperz, 1991). Adapun model matematikanya yaitu :
Yij            = µ + τ1 + εij
Keterangan
Yij     = Luas hasil pengamatan dari parameter luas hambatan pada ke - i dengan ulangan - j
µ     = Rata- rata pengamatan
τ1      = Pengaruh perlakuan ke- i (I = 1, 2, 3, 4, 5)
εij      = Galat percobaan dari perlakuan ke- i dengan ulangan ke – j (J= 1, 2, 3, 4).






Gambar 3. Metode difusi disk




HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Escherichia coli
            Data rataan diameter daya hambat antibakteri kombinasi kunyit bawang putih dan zink  terhadap bakteri E. coli yang dianalisis secara statistik dengan bantuan software SPSS Ver.13,0 dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan diameter daya hambat antibakteri kombinasi kunyit bawang putih dan zink  terhadap bakteri E. coli
Perlakuan
Luas Hambatan  (cm)
R0
0,00 ± 0,00a
R1
2,88 ± 0,34b
R2
3,25 ± 0,17 bc
R3
3,00 ± 0,22b
R4
3,40 ± 0,39c
Keterangan: superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% (P<0,05).


            Hasil uji daya hambat kandungan antibakteri dari tiap perlakuan terhadap E. coli masing masing menghasilkan daya hambat 0 cm, 2,875 cm, 3,250 cm, 3 cm dan 3,4 cm ( Gambar 4). Daya hambat paling tinggi diperoleh pada perlakuan R4 dan  daya hambat terendah diperoleh pada perlakuan R0.
            Perlakuan yang menunjukkan perbedaan nyata yaitu R1 dan R4 serta R3 dan R4 , perbedaan ini disebabkan oleh Zn yang bekerja sinergis dengan bawang putih, pada bawang putih terdapat kandungan Zn 0,057%, sehingga Zn pada pakan lebih tinggi. Pakan yang mengandung zink dan bawang putih daya hambatnya tinggi karena alisin menghambat pertumbuhan bakteri dan zink melindungi sel dari kerusakan oleh bakteri. Hal ini didukung oleh pendapat Shankar dan Prasad (1998) bahwa zink mempunyai kegunaan penting yaitu sebagai antioksidan, melindungi sel dari pengaruh kerusakan oksidatif yang dihasilkan selama aktivasi imun.
Hasil uji daya hambat terhadap E.coli diketahui yaitu perlakuan yang daya hambatnya paling tinggi yaitu R4. Kunyit mengandung senyawa kurkumin dan minyak atsiri dan pada bawang putih terdapat alisin. Kedua senyawa tersebut diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini didukung oleh pendapat Said (2003) yang menyatakan bahwa minyak atsiri pada kunyit terbukti bersifat membunuh bakteri (bakterisidal), minyak atsiri juga mampu menghambat pertumbuhan sel vegetatif bacillus dengan menghambat sporanya. Ditambahkan pula oleh Yongki (2009) bahwa tingginya daya antimikroba bawang putih dikarenakan kandungan alisin dan senyawa sulfida lain yang terkandung dalam minyak atsiri bawang putih. Zink memegang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh, dan sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pada kegiatan lebih dari 300 enzim, berperan dalam berbagai aspek metabolisme, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lemak, dan asam nukleat.



2. Staphylococcus aureus
            Data rataan diameter daya hambat antibakteri kombinasi kunyit bawang putih dan zink  terhadap bakteri S. aureus yang dianalisis secara statistik dengan bantuan software SPSS Ver.13,0 dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan diameter daya hambat antibakteri kombinasi kunyit bawang putih dan zink  terhadap bakteri S. aureus
Perlakuan
Luas Hambatan  (cm)
R0
0,00 ± 0,00a
R1
1,38 ± 0,43b
R2
1,78 ± 0,71b
R3
1,60 ± 0,22b
R4
1,63 ± 0,39b
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% (P<0,05).


            Hasil uji daya hambat kandungan antibakteri dari tiap perlakuan terhadap S. aureus masing masing menghasilkan daya hambat 0 cm, 1, 375 cm, 1,775 cm, 1,6 cm dan 1,625 cm ( Gambar 4). Perlakuan R1, R2, R3 dan  R4 tidak memberikan dampak yang berbeda nyata terhadap daya hambat , hal ini disebabkan zat aktif dari kunyit dan bawang putih agak sulit untuk menembus dinding sel bakteri S. aureus yang merupakan bakteri gram positif. Hal ini didukung oleh pendapat Kamaluddin (2009) yang menyatakan bahwa Bakteri Gram negatif disusun oleh lapisan peptidoglikan yang terletak di luar membran plasma, sebanyak 40 lembar atau 50% dari komposisi dinding sel. Teichoic dan teichuronic acid 50% berat kering dinding sel atau 10% berat kering seluruh tubuh bakteri dan komponen lain yaitu  polisakarida.
E. coli
S. aureus
 



























Gambar 4. Hasil pengujian daya hambat antibakteri kombinasi kunyit, bawang putih dan zink terhadap bakteri E. coli dan S. aureus.

Gambar 4. memperlihatkan bahwa perlakuan kontrol tidak terdapat daya hambat karena tidak ada zona bening yang terbentuk sementara itu pada pengukuran daya hambat antibakteri selain pada perlakuan kontrol yang terendah adalah 1,375 cm (13,75 mm) , nilai ini sudah bisa dikatakan mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini mengacu pada standar umum yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (1988) disebutkan bahwa mikroba dikatakan peka terhadap antimikroba asal tanaman apabila mempunyai ukuran diameter daya hambatan sebesar 12-24 mm.           
 





















            Antibiotik disk






Gambar 5.      Hasil pengujian daya hambat antibakteri bahan yang di autoklaf.
            Daya  hambat bahan pakan yang di autoklaf menunjukkan hasil tidak terdapat daya hambat (Gambar 5), hal ini mungkin disebabkan alisin yang merupakan zat aktif dalam bawang putih  memiliki sifat yang tidak termostabil sehingga saat mengalami pemanasan (1210C) dari autoklaf tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Menurut Ikhtiarsyah (2009) alisin merupakan senyawa yang kurang stabil, adanya pengaruh air panas, oksigen udara, dan lingkungan basa, alisin akan mudah sekali terdekomposisi menjadi senyawa sulfur yang lain seperti dialil sulfida.
            Daya hambat zat aktif kunyit dan bawang putih terhadap E. coli lebih tinggi dibanding dengan S. aureus, artinya bakteri E. coli lebih sensitif dibanding S. aureus, hal ini disebabkan oleh tipisnya lapisan peptidoglikan pada E. coli  sehingga dinding selnya lebih mudah di tembus oleh senyawa antibakteri pada pakan sedangkan  S. aureus   lapisan peptidoglikannya sangat tebal, hal ini sesuai dengan pendapat Aryantha (2009) yang menyatakan bahwa bakteri Gram positif memiliki peptidoglikan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Gram negatif sehingga dindingnya menjadi lebih tebal (50% sementara Gram negatif sekitar 10-15%). Dinding sel pada kebanyakan bakteri gram positif juga memiliki polisakarida yang disebut asam teikoat yang merupakan polimer gliserol dan ribitol fosfat yang menempel pada peptidoglikan atau membran sitoplasma. Fungsi asam teikoat (muatan negatif) adalah untuk transport ion positif dari dan keluar sel serta untuk penyimpanan fosfor
            Zat aktif yang ada pada kunyit dan bawang putih salah satunya yaitu minyak atsiri yang mengandung senyawa fenol yang mampu mendenaturasi protein dan menyebabkan kematian bakteri. Menurut Parwata dan Dewi (2008) minyak atsiri yang aktif sebagai antibakteri pada umumnya mengandung gugus fungsi hidroksil (OH) dan karbonil. Turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis.

date Senin, 31 Desember 2012